 |
| by google |
Wanita itu mengemis-ngemis kepadanya, mencoba mengais sebongkah harapan kepada sang karib nya. Membalut wajah dengan butiran ekspresi menengadah, walau tanpa rasa bersalah. Seketika ia mendekati karibnya, dan berucap dengan nada sendu.
"Kawan, aku membutuhkan bantuan mu." ucapnya lirih.
"Apa yang kau butuhkan?".
"Aku perlu uang." keluh nya terus terang.
"Uang? untuk apa?." paras nya terbelalak.
"Aku butuh uang untuk ibuku". ia meyakinkan karibnya.
"Ibumu? memangnya ada apa dengan ibumu kawan?".
"Ibuku sakit, ia membutuhkan perawatan. Dan aku tidak punya uang untuk membiayainya".
Sang sahabat karib terdiam sejenak.Keadaan hening, ia mengernyitkan dahinya seakan masih ragu dengan ucap wanita itu, namun si wanita adalah sahabatnya. Wanita tahu, sang karib nya adalah orang yang berada. Jadi, tak menutupi ia lebih baik meminta bantuan kepada sang karibnya dibanding orang lain.
"Baiklah, berapa jumlah yang kau butuhkan?".
"Aku hanya butuh Rp.5000.000,- saja kawan?".
"Rp.5000.000? aku tak punya uang sebanyak itu."
"Tidak kah kau tega dengan keadaanku saat ini?".
"Aku mengerti, tapi uang sebanyak itu aku tak menyimpan. Yang aku punya hanya setengah dari nominal yang kau sebutkan, itu pun uang hasil tabunganku."
"Lalu bagaimana, saat ini aku sangat butuh uang itu".
"Sabar kawan, aku akan mencoba mencari pinjaman setengah nya lagi".
"Terimakasih kawan, aku berhutang budi padamu".
"Kita kan sahabat, jadi kau tak perlu sungkan".
Ia (si wanita) tampak terlihat girang, topeng nya seakan menutupi paras aslinya didepan sang karib. Namun, tidaklah uang yang ia pinjam untuk keperluan ibunya, melainkan untuk kebutuhan pribadinya berfoya-foya dan berjudi. Tak peduli umur, tak peduli jenis kelamin, dan tak peduli siapa yang akan melarang nya. Ia bersenang-senang dalam kemelut dusta. Bertahun-tahun ia memanfaatkan sahabat nya sebagai kelinci investor dan sampai pada suatu ketika si wanita mendadak kaya, dengan style yang glamour mencuri-curi pandang dihadapan para lelaki namun naas, ketika wanita kaya sahabat nya jatuh miskin.
"Kawan, aku membutuhkan bantuan mu". ucap sang karib lirih.
"Apa yang kau butuhkan?". ucap si wanita dengan nada angkuh.
"Aku butuh uang."
"Uang? Untuk apa?".
"Untuk pengobatan ayahku".
"Ayahmu?".
"Ya, beliau membutuhkan biaya. Dan aku tak tahu harus pinjam kepada siapa lagi. Mungkin kau satu-satunya yg dapat membantuku".
"Tapi, maaf ya kawan. Aku sedang tidak punya uang untuk pengobatan ayahmu."
"Aku mohon, aku sangat membutuhkan nya".
"Sebaiknya kau cari orang lain saja yang mau menolongmu, aku tidak punya uang".
"Sebegitu angkuhkah kau saat ini?".
"Apa urusanmu?"
"Kau tidak ingat , dulu kau selalu mengemis-ngemis pada ku?."
"Sudahlah lupakan, itu masa lalumu".
"Kau juga sudah lupa dengan ucapan "hutang budi" itu?
"Omong kosong!!!"
"Seharus nya aku yang berbicara seperti itu padamu! dasar wanita berparas muslihat!".
"Lancang sekali kau, berbicara itu padaku. PERGI DARI SINI, kau bukan sahabatku lagi".
"........"
Saat itu keadaan menjadi tak seindah semestinya, kemuslihatan si wanita telah tampak jelas ketika sang karib meminta bantuannya. Ia bahkan telah memurkai sahabat nya sendiri, tak peduli kesulitan yang dialami sang karib. Tak ingatkah dulu ia mengemis-ngemis penuh harapan pada sang sahabat? , dulu ia mendustai ucapannya, dulu ia membohongi sahabat nya. Namun saat ini, hanya sebuah pembalasan yang tak ada artinya. Arti sahabat sudah berubah menjadi "sahabat ada apanya" bukan lagi "sahabat apa adanya".
Janganlah menjalin sahabat jika kita hanya butuh bantuan nya sesaat,
melainkan jalinlah persahabatan ketika kita saling membutuhkan dan dibutuhkan.
Maka carilah sahabat yang "APA ADANYA" bukan "ADA APANYA".
oleh :