Karya : Siti Amini Aisyah
Pagi itu tampak seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan seragam batik kesayangan ku. Tepat pukul 06.30 wib aku menginjakkan kaki dan berjalan menuju koridor rumah untuk segera berangkat sekolah, tak lupa sebelum kaki melangkah ke pintu luar aku berpamitan kepada kedua orang tua ku. Tidak bosan-bosan bapak mengingatkan ku“bacalah basmallah sebelum berangkat nak, agar sesuatu dapat dimudahkan”. Pagi itu pula tepatnya hari Rabu, aktivitas kendaraan berjalan separuh normal karena agak nya sedikit macet pada lampu lalu lintas. Namun itu hal yang mungkin sudah dianggap biasa, hari itu cerah matahari nampaknya tengah tersenyum menyambut pagi, kicauan burung menjadi alunan nada penyambut sang mentari, dan langit menjadi saksi ketenangan hiruk pikuk pagi ini. Tapi, ada sedikit risalah yang mengatakan bahwa “pagi ini tak secerah hati ini”. Ya, hari ini hati ku tidak secerah pagi ini. Ada sedikit noda yang mengganjal yang menghantarkan aku untuk datang terlambat. Dan ternyata, hari ini pun aku terlambat datang kesekolah.
“terlambat ya dek?” kata seorang guru yang sedang stand by untuk mencatat data murid yang terlambat pagi itu.
“iya pak”. Jawabku datar.
“siapa namamu?”
“Amini”.
“kamu kelas apa?
“XI IPS 1 pak”. Jawabku singkat.
Lalu aku diperbolehkan masuk, dan tetap saja aku merasa bersalah terhadap diriku sendiri. Pagi yang indah dikotori oleh kata hati ku yang salah, tapi aku hanya berhuznudzon mungkin dibalik kesengsaraan ku pagi ini ada suatu hikmah yang dapat ku petik. Ya, aku jadi tidak mengikuti pelajaran B.Indonesia pada hari itu. Bukan ku tidak menyukai pelajaran nya, tapi aku sangat tidak menyukai guru baru Bahasa Indonesia ku saat ini. Perawakan nya agak sedikit jutek, seperti nya dia lebih menyukai anak-anak murid yang populer dibanding murid yang kalangan biasa saja (diskriminasi),dan satu hal seperti nya dia juga tidak menyukai ku. Tapi sampai saat ini aku masih bertanya, apa salah ku ini? Ketidak sukaan ku dengan guru, aku masih mempunyai etiket yang mungkin tidak dimiliki yang lain nya jika tidak menyukai guru yaitu ‘menghargai guru ketika menerangkan’ karena aku tidak ingin ilmu ku kosong hanya karena kebodohan ku tidak menyukai guru, lantas aku harus untuk tidak menyukai pelajaran nya pula? Apakah demikian?. Tapi kenyataan nya TIDAK! Aku bukan tipe seperti itu, bagi ku seburuk apapun guru dia adalah seorang guru yang telah mengasihi ilmu pada kita , karena tanpa ilmu kita tidak akan pernah tahu apa saja materi yang ada di dunia ini dan ketidaktahuan kita akan menjadikan suatu kebodohan. Baiklah kembali ketika aku hendak memasuki ruang kelas ternyata ibu Tenti telah hadir, dan aku mengintip dari balik kaca pintu.
***
Aku pun memberanikan diri untuk memasuki kelas walaupun ada sedikit rasa takut, entah takut dimarahi, entah takut teman-teman mensoraki ku, entah takut semua hal buruk ku terjadi pada hari ini. Saat itu pun, aku ingat dengan pesan bapak “bacalah basmallah sebelum berangkat nak, agar sesuatu dapat dimudahkan”. Mungkin tadi sebelum berangkat ke sekolah, aku lupa membaca kalimat tasbih yang sudah berkali-kali bapak ingatkan sehingga aku mengabaikan apa yang bapak katakan. Akhirnya, aku mencoba untuk mengucapkan kalimat tasbih itu sebelum masuk ke ruang kelas. Dan ternyata apa yang terjadi, biasa saja semua hanya terdiam dan ibu Tenti pun agak memberikan sedikit senyuman kecut dan perkataan sindiran kepadaku “ Sudah jam berapa ini?” ,“Sepertinya sudah lewat dari jam normal”. Kata nya agak sinis. Lalu aku menjawab dengan tampang yang sedatar-datar nya “Iya bu, saya tahu. Maaf bu saya telat”. Dan dengan tegas, beliau menyuruhku ke guru piket untuk meminta surat izin masuk kelas. Guru piket hari itu adalah bu Rini, beliau adalah guru fisika kelas dua belas dan langsung saja aku mengucapkan salam di depan pintu kantor guru “Selamat pagi bu, maaf saya telat”. Kataku agak sedikit memelas.“Telat yah? Mengapa kok bisa telat?”. Sambil menatap mataku.
Aku bingung harus menjelaskan apa, karena seperti nya aku sudah hampir beberapa kali telat hanya karena rasa ketidaknyamanan ku di kelas. Apakah aku harus mengatakan bahwa hal penyebab nya adalah seperti yang aku katakan barusan, tapi itu bukan suatu alasan yang rasional mungkin. Lama aku berfikir, beliau langsung memberikan aku selembar kertas kecil ukuran sekitar 10x10 cm untuk menuliskan keterangan bagi siwa yang telat sekaligus Surat Tanda Izin Masuk ruang kelas. Seketika aku mengeluarkan bolpoint untuk menuliskan keterangan pada kertas tersebut Bu Rini mengatakan sesuatu
“Pelajaran pertama, jam pelajaran siapa kamu?”. Aku pun menjawab “Ibu Tenti bu!!”.
Beliau pun bertanya lagi “Lalu siapa jam pelajaran kedua?.”
Lagi-lagi aku menjawab “Masih dengan Bu Tenti bu!!”.
“Oh, yasudah. Kamu masuk di pelajaran kedua , sebelum itu kamu menunggu bel di perpustakaan saja.” Kontruksi nya dengan tegas.
Lalu aku pun mengiyakan perkataan beliau “Baik bu...”.
Saat itu pun segera aku berpamitan dengan Bu Rini , dan langsung melangkahkan kaki berjalan menuju perpustakaan. Entah mengapa rasa nya pada saat aku tidak mangikuti pelajaran Bu Tenti aku tidak merasa terbebani oleh apapun malah sebalik nya, aku bersyukur hari ini tidak mengikuti mata pelajarannya karena saat itu pun ketika aku masuk ke kelas sebelum nya, aku melihat Rahmi teman sebangku ku tidak ada di kelas mungkin hari ini dia tidak hadir. Karena tanpa adanya Rahmi, aku membayangkan mungkin aku bisa gugup duduk di depan sendiri ketika pelajaran Bu Tenti dan secara kasat mata langsung berkomunikasi dengan beliau. Apa jadinya jika beliau mendekati ku dan memberikan pertanyaan seolah ia ingin melampiaskan nya kepada ku?, ah tidak! Itu hanya ilusi ku saja.
***
Aku berjalan di samping koridor sekolah sedang menuju ke arah perpustakaan yang letak nya tidak jauh, karena sekolahku hanya berupa bangunan gedung bertingkat yang berbentuk persegi panjang mungkin lebih tepat nya membentuk kotak.Di perpustakaan
Saat aku memasuki ruang perpustakaan, dan membuka setengah pintu , penjaga perpustakaan yang tengah asik mencatat data-data buku pinjaman langsung saja menyapaku dengan ramah dan seakan dia telah mengenali ku dengan sebutan “neng” seperti ini lah kronologi nya, aku memang salah satu pengunjung setia perpustakaan sekolah, karena hampir setiap minggu aku masuk dalam daftar kehadiran pengunjung perpustakaan. Aku sering mengunjungi perpus ketika aku sedang bosan berada di kelas, aku meluapkan semua itu dengan membaca novel atau buku-buku lainnya yang menurutku menarik. Kesetiaanku mengunjungi perpustakaan, menjadikan aku akrab dengan penjaga nya tersebut dan seakan-akan kita sudah seperti teman sekawan, dari situ lah timbul sebutan khas yang dapat aku dengar jika sesekali aku masuk ruangan tersebut, sambil memberikan senyuman ramah dia pun menyapa setiap pengunjung yang masuk ke perpus. Entah mengapa aku lebih merasa nyaman belajar di lingkungan perpus, dibandingkan dengan kelasku sendiri. Karena aku tidak menyukai lingkungan kelas ku sekarang, aku tidak suka cara mereka belajar, aku tidak suka cara mereka bertingkah, dan yang lebih ironis aku lebih suka menyendiri dengan membaca buku atau novel dibanding berbicara dan tatap muka dengan mereka. Tapi satu hal, aku tidak lekas membenci Rahmi karena Rahmi tidak seperti mereka. Dan Rahmi pun anak yang tidak pernah membeda-bedakan atas sesama , tapi dia tahu mana yang menurut nya salah dan benar. Maka nya aku tidak lantas membenci Rahmi, karena Rahmi bukanlah segolongan dari mereka. Kembali pada situasi saat aku berada di perpus, aku pun masuk dan mengisi daftar kepengunjungan. Lalu aku mengambil sebuah buku yang isi nya tentang anak yang mengalami ‘Skizofrenia’ , skizofrenia tersebut merupakan penyakit yang menyerang sistem otak dan mengakibatkan gangguan mental/jiwa psikotis yang akan timbul sulit mengendalikan emosi pada anak tersebut. Setelah aku membaca buku itu seperti nya aku merasa aku mengalami apa yang dialami anak tersebut. Tapi mungkin itu hanya sekedar ilusinasi ku saja saat aku membaca bukunya, karena aku orang yang mudah terbawa ke dunia dimana aku sedang memahami dunia tersebut. Tak lama kemudian, Bel jam kedua pun berbunyi, itu artinya pelajaran Bu Tenti telah usai. Aku pun harus segera bergegas ke kelas, dan aku baru sadar padahal pelajaran ketiga adalah sejarah, sedangkan Pak Yudi yang mengajar sejarah dan guru-guru yang lain sedang mengadakan tour ke museum Fatahillah bersama beberapa anak yang diambil dari jurusan IPS yang terpilih karena perolehan nilai sejarah tertinggi. Tentu saja beliau pasti tidak akan masuk ke kelas, pada saat itu aku sempat berfikir untuk melanjutkan membaca di perpustakaan saja tapi hati berkata lain, aku harus menuju ke kelas karena kebetulan setelah pelajaran Pak Yudi dilanjutkan dengan pelajaran Bahasa Inggris dan ada tugas mengenai story telling. Lantas apakah masalah nya bagiku? Ternyata aku belum terlalu menguasai text nya.
***
Saat DikelasKetika aku berada di kelas, ada sebagian anak yang bertanya pada ku. Entah karena peduli atau hanya sekedar ingin menghina ku karena aku telat hari ini. Ia bertanya “hey, kenapa kamu telat?”. Aku hanya menggeleng dan menjawab dengan senyum simpul, sekedar mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu di katakan. Entah ada apa, hati ku gelisah ketika aku telah berada di ruang kelas yang aku masuki sekarang. Pikiran ku semakin menjadi-jadi, apalagi pada saat itu tidak ada Rahmi yang bisa menyadarkan ku. Aku hanya terdiam, memang aku seorang yang pendiam dan yang hanya aku lakukan pada saat itu adalah menunggu bel berbunyi dan menunggu Ibu Pur datang ke kelas dengan memberikan senyuman nya yang sejuk. Sambil aku menunggu bel berbunyi , aku harus segera menguasai text story telling dan menghafalkan nya agar ketika berbicara di depan, nada suara ku tidak terdengar tersendat-sendat. Lalu seketika pikiran ku buyar, dan semuanya mengambang. Perasaan itu timbul lagi di benakku, aku berusaha untuk menyingkirkan pikiran yang buruk tentang perilaku teman-teman ku di kelas tapi rasa nya sulit untuk ku usik. Seketika air mata ku jatuh saat itu, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku ketika itu. Aku merasa tidak ada orang yang mempedulikan ku, tidak ada Rahmi yang selalu menenangkan ku, tidak ada dukungan dari siapa pun, karena fikiran itu datang dengan sendirinya. Tak ada yang bisa ku lakukan, aku hanya dapat menahan emosi pada saat itu, tak ada sandaran yang dapat aku torehkan. Dalam hati aku bertanya “Apa yang terjadi pada diriku hari ini?”...
Entah bagaimana jadi nya jika bu pur memasuki ruangan kelas , dan melihat ku menangis tanpa alasan yang jelas. Semua nya tanpa di sadari, aku hanya bisa berucap istigfar untuk menenangkan pikiran ku “astagfirullah... astagfirullah... astagfirullah... 100x”. Mungkin kejadian yang aku alami hari ini tidak pernah terfikirkan sebelum nya, namun aku ingat dengan perkataan yang bapak ucapkan dan kata hati yang menuntunku untuk tidak beranjak ke sekolah hari ini, mungkin ini hanya sekedar peristiwa yang tidak disengaja atau mungkin aku ini anak skizofrenia. Aku tak tahu, dan aku tidak ingin tahu?. Ketika itu bel pun berbunyi, Bu Pur pun akan segera tiba di kelas. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung? Hatiku ku berantakan seperti kapal yang tengah jatuh ke jurang! Aku belum siap untuk belajar!. Akhirnya Bu Pur menginjakkan kaki di kelas XI IPS 1 , langsung saja anak-anak bersikap tertib dan sopan sedangkan aku masih sibuk untuk mengusap-usapkan air mata yang tak kunjung berhenti. Seketika beliau kaget melihat keadaanku yang tidak seperti biasa nya, dan segera lah beliau bertanya tentang keadaanku
“Kamu kenapa nak, kok nangis?” tanya nya dengan nada lembut.
***
Seketika beliau bertanya kepada ku, ada sebagian dari mereka yang ikut menanyakan sama hal nya seperti pertanyaan Bu Pur sebelum nya. Padahal aku menangis bukan hanya barusan, tapi sebelum itu pun aku telah menangis. Aku bertanya dalam hati “Haruskah dunia ini penuh sandiwara?”. Apakah mereka hanya mencari sebuah perhatian semata dihadapan Bu Pur atau memang mereka benar-benar tulus menanyakan bagaimana keadaanku sekarang, tapi keadaanku sperti ini bukan hanya sejak saat ini tapi sejak tadi. Apakah mereka baru bisa peduli jika salah seorang peduli kepada ku?Entah, tapi aku hanya berfikir bagaimana cara nya untuk menjelaskan ini semua ke beliau. Dan aku pun mengeluarkan sepatah atau lebih kata dengan nada isak tangis “A...ku ti...dak apa-apa, aku hanya butuh ketenangan” “ Aku izin untuk pulang hari ini, boleh kan bu?”. Lalu beliau pun mengabulkan permohonanku, “Baiklah, tenangkan dirimu nak”. Sesaat, aku langsung berlari kecil menuju ruang BK untuk meminta surat permohonan izin pulang, pada saat aku berlari kecil banyak terlontar pertanyaan seperti ini :
“Kok tiba-tiba menangis?”.
“Kenapa anak itu?”.
“Eh, kok nangis?”.
Dalam hati ku berkata, “percuma saja kalian bertanya pada seorang yang sedang menangis, apakah pertanyaan kalian akan terjawab dari orang sedang menangis? Jawabannya pasti ‘TIDAK’”.
Aku tidak suka hari ini, aku benci hari ini, seandainya aku mengetahui apa yang akan terjadi hari ini mungkin aku berharap ingin melewati tanpa mengalami nya.
***
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen