Freitag, 2. Dezember 2011

Cerpen 2

Misteri Alten Haus
karya : Siti Amini Aisyah
Genre : Horor



Kerap kali ku melewati rumah itu, tubuhku rasa nya gemetar, hawa dingin merasuk jiwaku, sepatah kata pun sulit untuk ku lontarkan. Sepintas yang kulihat tampak rumah itu seperti tak berpenghuni atau mungkin memang sedang ditinggalkan oleh penghuni nya?. Halaman depan yang ditutupi daun-daun yang berserakan seperti tak tersapu oleh penghuni nya, cawang-cawang yang menempel pada dinding atap pun seperti tak lekas dibersihkan oleh pemilik rumah dan satu hal, konon kata nya ada misteri dibalik rumah tua itu. Bagi orang-orang disekitar sini rumah itu sering disebut “Alten Haus”. Nama Alten Haus sendiri berasal dari dua kata bahasa jerman , alten yang arti nya ‘tua’ dan haus yang artinya ‘rumah’, yang berarti rumah tua. Seketika aku melihat Alten dari kejauhan, ada dua orang yang sedang berbicara di belakangku mengenai rumah itu dan aku tak sengaja mendengar perbincangan mereka.
“Arsitektur rumah itu terlihat tua ya?”.
“Ya, seperti itulah. Mungkin dulu nya bagian dari rumah penjajah”.
“Mungkin saja. Tapi ada yang aneh dari rumah itu?”.
“Maksud mu? Aneh bagaimana?”.
“Entahlah, kemarin aku melihat berita di media cetak tentang anak yang hilang di depan halaman Alten”.
“Benarkah?”.
“Benar,menurut media cetak anak kecil itu tiba-tiba saja menghilang ketika ibu nya lengah mengawasi nya sedang bermain.”
“Sampai saat ini, ia belum ditemukan.” Lanjut nya.
“................”
Mendengar kedua orang tersebut berbicara mengenai anak yang hilang di halaman Alten, aku pun semakin curiga dengan rumah itu. Sebenar nya ada hal apa yang disembunyikan pada rumah berasitektur kolonial tersebut?.
***


Esok nya, aku ingin mencari tahu apa sebenar nya yang terjadi di Alten Haus. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, sekolah sedang libur. Peluang ku untuk mencari tahu kejadian yang selama ini terjadi sangat banyak. Aku segera menginjakkan kaki pada jalan setapak yang licin akibat diguyur hujan semalaman. Seiring aku berjalan, dari belakang sebuah mobil mengklakson ku agar aku segera minggir dari garis putih abu yang sedang aku sebrangi. Aku terburu-buru , aku menabrak seorang anak kecil dan anak itu pun terjatuh. Segera aku menolong nya.
“Maaf kan aku,aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa?”. Tanya ku khawatir takut terjadi sesuatu.
“Aku tidak apa-apa”. Jawab anak itu dengan nada datar.
“Siapa namamu?”.
“Aku Elsen”. Jawab anak itu
Jawaban nya singkat, dan seperti nya ia anak yang tidak suka banyak bicara. Aku pun tak kalah memperkenalkan diriku.
“Perkenalkan , aku Elssa”. Kataku.
“Namamu bagus, Elssa”.
“Terimakasih...”.
Ia memuji namaku , tapi entah mengapa selama aku berbicara ia selalu menutupi wajah nya dengan pudung jaket yang ia kenakan.
“Apa kau tinggal disini Elsen?”. Kataku sambil menunjuk rumah itu.
“Tidak. Aku hanya ingin bermain disekitar sini”.
“Kau tidak takut?”. Aku penasaran.
“Takut pada apa?”.
Mungkin Elsen tidak tahu betapa mengerikan nya rumah itu, tapi aku segera mengarahkan pertanyaan ku yang lebih masuk akal.
“Kau tidak takut jika orang tuamu khawatir mencari mu?, karena kau bermain jauh”.
“Orang tuaku sedang bekerja, jadi aku bisa bermain sesuka hati ku”.
“Tapi bagaimana jika kau hilang disekitar sini?”.
“Maksudmu?”. Tanya Elsen padaku.
“Tempat ini berbahaya...”.
***

Elsen hanya terdiam, entah ia mengerti maksudku atau tidak. Tapi seperti nya ia tak menghiraukan ucapan terakhir ku tadi, ia langsung pergi meninggalkan ku tanpa mengucapkan sepatah kata. Tampak dari kejauhan, ia menghampiri Alten Haus. Kaki ku rasa nya ingin melangkah untuk mencegah Elsen, tapi rasa nya sulit. Seketika aku putus asa, dan selang beberapa detik tanpa memandang Elsen. Anak itu pun telah hilang dari pandangan ku.
Aku pergi berjalan kembali menuju rumah. Sesampai nya di rumah, aku merebahkan tubuhku dengan rasa menyesal dan untuk hari ini aku tidak mendapatkan apa-apa tentang Alten Haus. Sudah hampir dua jam aku merebahkan tubuh, tapi rasa nya ada yang mengganjal dengan kejadian yang terjadi pagi tadi. Aku bingung dengan hilang nya Elsen, dan juga berita anak kecil yang hilang kemarin lusa di Alten Haus. Mereka adalah sama-sama anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Sekarang, yang kutanyakan apakah Alten Haus menyukai anak kecil?dan mungkinkah aku tidak akan apa-apa jika aku memberanikan diri untuk masuk ke Alten Haus? Karena sesungguhnya aku ingin tahu dengan apa yang terjadi pada rumah tua itu. Tak berpenghuni, tapi banyak melenyapkan anak kecil termasuk Elsen. Entah nyawa mereka masih atau tidak, aku ingin segera mengungkap misteri Alten Haus.
Pagi itu, ibu telah menyiapkan sarapan untukku, tapi aku masih malas untuk beranjak dari tempat tidur. Sehingga, ibu sampai masuk ke kamarku dengan membawa sarapan yang telah disiapkan nya untukku.
“Hei, Elssa. Sudah pagi, ayo bangun!”. Seru ibuku.
Sambil menguap dan memaksakan tubuhku untuk segera beranjak, aku pun menjawab dengan nada setengah malas,
“Iya bu, aku bangun..”.
“Cepat, ibu sudah buatkan kau sarapan spesial”. Bujuk ibuku.
“Nasi goreng dan teh hangat, huaaaa asyiiikk!”.
Aku pun semakin bersemangat untuk menegakkan tubuhku dari atas kasur, setelah semalaman aku memikirkan bagaimana cara nya mengungkap misteri Alten Haus. Ya, lagi-lagi yang kupikirkan rumah tua itu. Sambil menikmati hidangan sarapan yang ibu sediakan, aku membaca koran yang tergeletak di meja kamarku. Tercantum tanggal penerbitannya hari ini yaitu 25 November 2011. Aku penasaran, ada berita baru mengenai apa pada media cetak tersebut?. Ternyata, aku melihat sebuah nama bertuliskan ‘Elsen’ tertera pada koran pagi itu. Segera aku membuka topik mengenai Elsen. Ternyata benar, berita itu membahas Elsen yang kemarin aku temui di depan Alten Haus. Elsen menghilang! Kejadian nya pun serupa dengan anak yang dibicarakan oleh mereka orang-orang yang berada dibelakangku tiga hari yang lalu.
***




Setelah pulang sekolah, aku pergi menuju rumah orang tua Elsen dan menjelaskan kepada mereka tentang peristiwa yang terjadi pada hari itu. Orang tua nya pun seolah tak percaya akan kehilangan anak nya.
“Elsen itu anak pendiam”. Kata kedua orang tua nya. Mereka merasa bersalah telah lalai menjaga anak satu-satu nya itu karena alasan pekerjaan yang memakan banyak waktu. Mereka mengakui “Elsen kurang perhatian dari kami”. Mungkin itu sebab nya Elsen anak yang pendiam, dan ingin mencari sesuatu yang baru di luar sana tanpa menghiraukan orang tua nya. Memang perhatian orang tua sangat diperlukan bagi seorang Elsen, apalagi menginjak masa yang segera menjadi remaja, perhatian dan kasih sayang dari orang tua sangat diperlukan. Tapi yang menjadi masalah saat ini, bagaimana bisa menemukan korban-korban yang hilang dari Alten Haus?. Petugas patroli seperti polisi pun sudah mencari jejak yang nampak nya tidak ditemukan pada rumah tersebut. Sampai akhir nya aku memberanikan diri untuk mencari tahu apa sebab dibalik semua ini?. Dengan seorang diri, kuberanikan untuk memasuki rumah tua itu. Di depan pintu Alten Haus, aku berusaha menahan rasa takut dan mengganti nya dengan rasa ingin tahu.
Sedikit ku langkah kan kaki menuju ruangan yang sedikit menyeramkan. Ku amati setiap sudut-sudut yang menunjukkan sebuah identitas rumah ini dan berharap menemukan sebuah tanda-tanda yang masih nampak ada nya kehidupan di rumah ini. Lalu seketika, aku menoleh pada sebuah bangku yang diatas nya tergeletak sebuah buku kuno. Tanpa pikir panjang aku mengambil nya, tapi seketika aku beranjak mengambil buku itu kudengar suara gertakan seseorang seperti sedang marah. Aku bergegas, berusaha mencari sumber gertakan seseorang tersebut. Dan itu membawaku ke sebuah ruangan tua yang berisi foto-foto dinding. Semakin ku mendekati, semakin terdengar suara itu dengan jelas, dan semakin terdengar ada nya suara tangisan. Lalu suara apakah itu sebenar nya?.
Aku mendekati sebuah dinding, kedengaran nya suara itu berada di balik dinding ruangan yang ku masuki saat ini. Seketika telinga ku tempelkan pada dinding tersebut, tak sengaja aku melihat bolongan kecil dan segera aku mengintip apa yang sebenar nya terjadi dibalik dinding.
Aku berteriak ‘Elsen’. Aku melihat Elsen sedang dicambuki oleh segerombolan pemuda bertopeng. Ia terlihat menahan kesakitan, bukan hanya ‘Elsen’, banyak teman-teman sebaya nya yang bernasib sama. Dugaan ku benar, mereka tak lebih adalah penyuka anak kecil alias penculik berdarah dingin yang ingin menukarkan anak-anak itu sebagai alat pembayaran. Keterlaluan! Seiring ku menemukan Elsen, aku segera menginjakkan kaki berlari ke luar untuk mencari polisi. Dan aku juga segera menghubungi orang tua Elsen. Dengan nada tergesa-gesa, aku berupaya agar cepat keluar dari tempat ini dan sampai akhir nya aku menjatuhkan buku yang ku pegang selama berlari, mungkin saat ini mereka tengah curiga dengan suara buku yang baru saja ku jatuhkan. Tanpa pikir panjang aku pun segera berlari dan berusaha memberitahu mereka sebelum segerombolan penculik menangkap ku.
***


Sampai di pintu keluar, aku merasa lega. Ada yang mengetuk pintu diluar sana “tok tok..”. aku membuka dengan perlahan dan mengintip pelan-pelan dari sudut yang terlihat. Seketika aku mengintip, suara mengaggetkan dari luar itu berkata “ Siapa di dalam?”. Lalu aku membuka pintu nya, dan untung nya itu adalah petugas patroli. Aku selamat!
“ Ini aku Elssa! Aku telah melihat Elsen”.
Jawabku dengan nada tergesa-gesa seperti sedang dikejar oleh segerombolan penjahat. Lalu aku pun segera menunjukkan tempat dimana Elsen diberlakukan tidak selayak nya manusia. Setelah kejadian itu, polisi pun mengepung para penculik itu dari sudut-sudut yang berbeda. Ternyata, selama ini ada ruangan tersembunyi bagi mereka untuk mengelabuhi para petugas patroli yang sedang menyelidiki kasus tersebut.
“JANGAN BERGERAK!!!”.
Terlontar ucapan dari seorang komando petugas patroli yang tengah mengepung para penculik berdarah dingin tersebut. Akhir nya Elsen dan teman-teman nya pun terbebas.
“ Elsen, kau tidak apa-apa?”. Tanya ibu nya sambil merangkul tubuh Elsen.
“Aku tidak apa-apa”. Ia terlihat agak trauma.
Lalu Elsen melanjutkan pembicaraan “Aku berterimakasih pada Elssa...”
“Aku sangat menyesal tidak mendengar kata-kata mu waktu itu”. Ucap nya pada Elssa.
Aku pun hanya tersenyum simpul, sudah lega rasa nya telah mengungkap peristiwa yang selama ini membendung di alam penasaran ku. Kejadian ini telah membuat ku untuk lebih berani mengungkap kebenaran yang sebenar nya hanya mitos belaka. Memang rumah itu dulu nya adalah sebuah markas penjajah orang-orang jerman yang sering mencabut hak-hak manusiawi warga indonesia. Sampai mereka di berlakukan tak selayak manusia, mereka dibunuh, dicambuk hingga mati, disiksa terus menerus. Tapi itu hanyalah sepenggal sejarah, tidak untuk dijadikan sepenggal cerita yang tahayul. Bagiku rumah adalah tetap sebuah rumah.
***

Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen